Pengaruh
budaya, pergaulan dan media elektronik terutama televisi dan internet
makin memudahkan seseorang tergelincir berbuat asusila. Tontonan dan
bacaan yang vulgar dan hubungan lawan jenis yang tidak diimbangi dengan
pengetahuan agama dan nilai-nilai moral dapat menjerumuskan para remaja
kepergaulan bebas yang pada akhirnya jatuh ke perbuatan zina,
menghilangkan keperawanan dan keperjakaannya. Belum lagi kondisi yang
bakal mereka hadapi setelah itu, hamil muda, penyakit kelamin, HIV/AIDS,
adalah akibat yang ditimbulkan dari hubungan seks bebas.
Bagi
orang yang pernah melakukan seks bebas sebelum nikah, biasanya akan
mengulang kembali perbuatannya karena menganggap diri sudah tidak suci
lagi atau juga karena menikmati perbuatannya tanpa memikirkan dampak
buruknya.
Berikut ini ada beberapa tips untuk menjaga dan mempertahankan keperawanan wanita dan keperjakaan pria untuk dilakukan :
1.
Memilih pergaulan yang positif. Pilihlah pergaulan atau pasangan yang
menurut kita memiliki kualitas yang berharga baik dari segi agama maupun
perbuatannya. Bergaul dengan komunitas yang baik akan berdampak baik
pula bagi kita sehingga kualitas keimanan semakin meningkat. Sama halnya
juga dalam memilih pasangan, pilihlah pasangan yang baik yang mencintai
kita karena Allah. Pasangan yang baik tidak akan menjerumuskan kita
kepada perbuatan dosa dan memperturutkan hawa nafsu, melainkan ia akan
menjaga kehormatan kita.
2. Membuat kesepakatan di awal hubungan.
Sebaiknya sebelum menjalin hubungan dengan sang pujaan, buatlah
kesepakatan bahwa kita tidak ingin ada perbuatan mesum yang menyertai
hubungan tersebut. Bumbu ‘berpacaran’ seperti sentuhan dan sebagainya
hanya boleh dilakukan setelah menikah nanti karena toh ia yang akan
menjadi suami/istri kita kelak. Tegaslah mengambil keputusan jika
pasangan meminta hal yang belum menjadi haknya. Jangan sampai kita
terutama wanita menjadi bunga yang hanya dihisap madunya atau habis
manis sepah dibuang.
3. Menghindari ajakan untuk berbuat mesum.
Bagi yang sudah berpacaran, antara cinta dan nafsu menjadi semu. Itulah
kenapa banyak orang beranggapan kalau berciuman atau berpelukan untuk
menunjukkan rasa cinta dianggap wajar, padahal aktivitas tersebut
merupakan pintu masuk untuk berbuat zina.
Allah SWT berfirman: “Dan
janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa’ :32)
Hindarilah
ajakan pacar untuk melakukan perbuatan mesum, nyatakan dengan serius
bahwa kita tidak menyukainya dan perlu mengingatkannya pula akan dosa.
Jika kamu tidak berani menolaknya dan tergelincir akibat hasrat dan
bujuk rayu, potensi untuk melakukan perbuatan tersebut menjadi lebih
besar kedepannya.
Rasulullah mengajarkan sebuah doa perlindungan kepada kita manakala mendapatkan godaan iman.
“Aku
berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat dari
bisikan setan, dari tiupan setan dan hasutannya.” (H.R. At-Tirmidzi)
4.
Menghindari situasi atau tempat untuk berbuat mesum. Hindarilah
berdua-duaan dengan pasangan dimana saja berada kecuali disertai muhrim.
Upayakan untuk selalu berada di wilayah publik dan tetap terpantau oleh
anggota keluarga.
Rasulullah berpesan seperti yang diriwayatkan Ibnu Abbas:
“Janganlah sekali-kali seorang (diantara kalian) berduaan dengan wanita, kecuali dengan mahramnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Hindari
pula tempat-tempat publik yang membuat kita bisa melakukan perbuatan
yang dapat menghilangkan virginitas kita. Jangan biarkan diri kita pergi
ke tempat hiburan malam seperti pub, diskotik dan tempat maksiat
lainnya atau pergi bersama pasangan dengan mengendarai mobil dan parkir
di tempat yang sepi. Hindari aktivitas yang dapat membangkitkan sahwat
kita seperti menonton film porno, membaca majalah porno dsb. Hindari
pula menyendiri di rumah karena hal itu sama saja memberi kita
kesempatan untuk melakukan banyak hal di luar kendali kita.
5.
Menjaga sikap dan aurat. Sikap yang manja atau berkata dengan nada
mendesah hendaklah dihindari karena dapat memancing orang lain untuk
bertindak di luar kontrol. Menjaga aurat juga wajib untuk dilakukan dari
atas hingga bawah anggota tubuh, hindari pakaian yang menampakkan
bentuk tubuh dan terbuka. Berpakaian ketat dan menampakkan aurat baik di
keramaian maupun saat bersama pasangan sama dengan menyediakan diri
kita ke mulut buaya.
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah kepada orang
beriman laki-laki hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga
kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya
Allah maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Q.S. An-Nuur: 30)
Allah
juga memerintahkan hal yang sama kepada wanita untuk menahan
pkitangannya terhadap laki-laki dan menjaga kemaluannya. Allah
berfirman:
“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman
hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya.” (Q.S.
An-Nuur: 31)
6. Bersikap waspada dimanapun berada. Berpakaian
menutup aurat belum tentu menjamin kita terbebas dari perbudakan sahwat,
apalagi bagi orang yang memamerkan auratnya. Waspadalah saat kita
berada di tempat yang sepi, berhati-hatilah dengan orang yang baru kita
kenal atau yang sudah lama dikenal, karena perbuatan itu terjadi bukan
saja karena ada niat namun lebih karena adanya kesempatan. Tentu kita
masih ingat apa pesan bang Napi.
7. Ciptakan lingkungan
pertemanan yang sehat dan islami. Jangan mudah terpengaruh oleh
lingkungan yang tidak sehat dalam pergaulannya. Jadilah diri sendiri dan
jangan mudah bergantung pada orang lain, karena bisa saja teman yang
selama ini kita anggap baik ternyata buruk, jika kita terus membiarkan
diri kita didalamnya tanpa melakukan perubahan ke arah yang baik,
dikhawatirkan kita juga lambat laun akan tertular pergaulan yang tidak
baik dan menjerumuskan diri kita sendiri tanpa disadari. Untuk itu,
bijaklah dalam memilih teman dan jadilah orang yang punya kepribadian
yang pantas diteladani.
8. Menanamkan nilai-nilai agama dan
moral. Nilai agama dapat diperoleh lewat pembelajaran baik dari guru
agama, ustadz, orang tua dan sahabat atau buku-buku agama. Ingatlah
bahwa semua yang ada pada diri kita merupakan amanah dari Allah SWT.
Kecantikan bagi wanita, ketampanan bagi pria, seperti halnya
keperawanan, ia adalah anugerah bagi setiap insan untuk dijaga dari
perbuatan dosa, ketika sudah merasa mampu, menikahlah, karena itu adalah
hak bagi suami atau isteri kita nantinya. Jangan sampai kita
menyerahkannya kepada orang yang bukan pasangan sah kita. Alangkah
sangat ruginya orang yang telah kehilangan keperawanan atau
keperjakaannya karena berzina.
9. Menyadari akibat yang
ditimbulkan. Ingatlah bahwa hubungan seks bebas hukumnya adalah dosa
besar sehingga Imam Ahmad mengatakan “Aku tidak tahu ada dosa yang lebih
besar setelah membunuh jiwa dari pada zina.”
Selain itu, hubungan
bebas yang dilakukan berisiko tertular penyakit yang berbahaya, seperti
sipilis, HIV/AIDS dan penyakit kelamin lainnya apalagi bagi orang yang
suka gonta-ganti pasangan. Bukan hanya si pelaku yang mendapatkan
akibatnya, keluarga juga bisa ikut menderita.
Bila yang menjadi
korban adalah wanita, bisa saja ia mengalami kehamilan yang tak
diinginkan, akhirnya diri pun menanggung aib yang memilukan, membuat
malu keluarga dan beban psikologis lainnya. Belum lagi tuntutan dari
orang sekeliling yang menginginkan agar bayinya digugurkan. Masa depan
korban atau pelaku benar-benar dipertaruhkan. Jika sudah terjerumus, aib
akan sulit untuk dihilangkan hingga akhir hayat.
Oleh karena
itu, baik pria maupun wanita yang belum menikah berniatlah dan
berusahalah untuk tetap mempertahankan keperawanannya dan
keperjakaannya. Tanamkan keyakinan bahwa dengan menjaga kesucian diri
maka Allah akan memberikan kita pasangan yang suci. Kita pun akan puas
dan bahagia bila dapat mempersembahkankan sesuatu yang paling berharga
kepada orang yang kita cintai pada waktu yang telah dihalalkan untuk
itu.
Bila kita benar-benar dapat menjaga kesucian itu, maka orang
akan menghormati dan menghargai kita. Sama halnya ketika kita menerima
pasangan yang menjaga kesuciannya.



